CN-235 adalah pesawat angkut jarak sedang dengan dua mesin
turbo-prop. Pesawat ini dikembangkan bersama antara CASA di Spanyol and
IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebagai pesawat terbang regional
dan angkut militer. Versi militer CN-235 termasuk patroli maritim,
surveillance dan angkut pasukan.
Desain & Pengembangan
CN-235
diluncurkan sebagai kerja sama antara CASA dan IPTN. Kedua perusahaan
ini membentuk perusahaan Airtech company untuk menjalankan program
pembuatan CN-235. Desain dan produksi dibagi rata antara kedua
perusahaan. Kerja sama hanya dilakukan pada versi 10 dan 100/110.
Versi-versi berikutnya dikembangankan secara terpisah oleh masing-masing
perusahaan.
Desain awal CN-235 dimulai pada Januari 1980,
purnarupa pesawat terbang perdana pada 11 November 1983. Sertifikasi
Spanyol dan Indonesia didapat pada tanggal 20 Juni 1986. Pesawat
produksi terbang pertama pada 19 August 1986. FAA type approval didapat
pada tanggal 3 Desemebr 1986 sebelum akhirnya terbang pertama untuk
pembeli pesawat pada tanggal 1 Maret 1988. Pada tahun 1995, CASA
meluncurkan CN-235 yang diperpanjang, yaitu C-295
Versi Militernya Digunakan di Banyak Negara
Ternyata, versi militer CN 235 banyak diminati dan diekspor ke negara lain, yaitu:
* Afrika Selatan: Angkatan Udara Afrika Selatan (1)
* Amerika Serikat: Penjaga Pantai Amerika Serikat (8 HC-144)
* Arab Emirat: Angkatan Laut Persatuan Emirat Arab
* Arab Saudi: Angkatan Udara Arab Saudi
* Botswana: Angkatan Udara Botswana
* Brunei: Angkatan Udara Brunei (1)
* Chile: Angkatan Darat Chile (4 CN-235-100) satu jatuh di Antartika
* Ekuador: Angkatan Udara Ekuador
* Gabon: Angkatan Udara Gabon
* Indonesia: Angkatan Udara Indonesia (mengoperasikan CN235-100M, CN235-220M, CN235MPA)
* Irlandia: Korp Udara Irlandia (2 CN235MP)
* Kolumbia: Angkatan Udara Kolumbia
* Korea Selatan: Angkatan Udara Korea Selatan (20)
* Malaysia: Angkatan Udara Malaysia (8 CN235-220)
* Maroko: Angkatan Udara Maroko (7)
* Pakistan: Angkatan Udara Pakistan (4 CN235-220)scfgtrh
* Panama: Angkatan Udara Panama
* Papua New Guinea: Angkatan Udara Papua New Guinea
* Perancis: Angkatan Udara Perancis (19 CN235-100, 18 ditingkatkan menjadi CN235-200).
* Spanyol: Angkatan Udara Spanyol (20)
* Turki: Angkatan Udara Turki (50 CN235-100M); Angkatan Laut Turki (6 CN-235 ASW/ASuW MPA); Penjaga Pantai Turki (3 CN-235 MPA)
* Yordania: Angkatan Udara Yordania (2)
Disegani?
CN-235 MPA
Rupanya
Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama tahu kehebatan para
insinyur Indonesia. Buktinya? Mereka sekarang sedang mencermati
pengembangan lebih jauh dari CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft) atau
versi Militer.
Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank
dan IMF menyebut pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot
investasi terlalu banyak dan hanya jadi mainannya BJ Habibie lalu
mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati.
Turki
dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 MPA terutama versi militer
sebagai yang terbaik di kelasnya di dunia. Inovasi 40 insinyur-insinyur
Indonesia pada CN 235 MPA ini adalah penambahan persenjataan lengkap
seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan
kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235
versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada)
untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.