Subang, Jumat, 30 Maret 2019 adalah hari dimana mungkin aku takkan pernah melupakannya. Hari paling bahagia dalam hidupku. Hari dimana aku dan istriku mengikat janji sehidup dan sesurga (Aamiin 😁). Wanita yang kukenal tak sengaja di salah satu jejaring sosial media 😆😆😆, setelah 5 tahun berkenalan. 5 bulan sudah kami menjalani hidup bersama, ya masih seumur jagung mungkin. Namun, sudah banyak hal indah yang sudah kami lakukan bersama, menangis bersama, melalui ujian bersama, teman ribut, teman berbagi.
Ketika bersamanya aku merasa sebagai seorang pria yang beruntung, sangat beruntung. Tipikal seorang istri yang memang aku impikan dari dulu. Seminggu setelah menikah aku membawanya ke Batam kota tempatku bekerja, walaupun mungkin berat rasanya karena akupun sudah mulai gusar dan tak betah, ingin sekali rasanya pergi dari sini. Namun hal yang tentunya mungkin harus tetap dijalani. dan aku pun berharap ia betah di sini. Aku bersyukur memilikinya, ia adalah seorang wanita yang sabar, dan menerima setiap apapun yang kuberi. Walaupun terkadang akhir-akhir ini sedikit menyebalkan, mungkin karena ia kini sedang mengandung anakku. Yups, kini ia sedang mengandung usia kandungannya kini sudah menginjak 4 bulan. Hal yang sangat aku syukuri, sebulan setelah menikah istriku langsung positif mengandung. Rasa sayang padanya pun semakin besar mungkin melebihi saat sebelum menikah.
Memasuki usia kehamilan ke 10 minggu, rasa mual yang terus makin tak tertahankan membuatnya terlihat tersiksa. Akupun semakin tak tega, sebagian pekerjaan rumahnya pun aku ambil alih. Dari memasak mencuci, hal yang sudah kutinggalkan sejak dirinya ada disinya. Karena mungkin sudah terbiasa aku tak merasa keberatan, bagiku saling membantu dalam rumah tangga adalah sebagian dari ibadah. Seiring bertambahnya usia kandungan semakin berat juga mungkin beban yang ia rasakan, hingga ia mengatakan padaku "....pah, pengen pulang aja" akupun berusaha membujuknya agar ia kuat dan bertahan di sini paling tidak hingga kandungannya berusia 6 atau 7 bulan, selain aman di dalam pesawat akupun masih butuh ia di sini menemaniku. Sulit rasanya kubayangkan hidup tanpanya di sini setelah sekian bulan ia menemani. Lagipun, aku ingin sekalian menjaganya dan calon anakku.
Namun, akhirnya aku yang mengalah setelah hampir setiap waktua ia mengeluhkan kondisinya yang kulihat semakin tak tertahankan. Aku tak tega saat melihatnya muntah-muntah dan terkadang tak ingin makan karena mungkin makanan di sini yang menurutnya tak sesuai selera. Rabu, 7 Agustus 2019 tepatnya 4 bulan ia di sini, hari dimana aku mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya di kota Subang. Walau berat rasanya aku harus mengikhlaskannya demi istriku dan calon anakku. Aku berharap di sana ia bisa fokus menjaga kesehatannya dan kesehatan janin calon anak kami.
Istriku, terima kasih atas waktumu bersamaku di sini. Aku bahagia memilikimu. Aku titipkan calon anak kita. Doakan aku di sini yang bersusah payah mencari sesuap nasi untukmu dan si buah hati.
Love you........